Mensucikan Jiwa - 10 June 2010 - !! -- For Download -- !!
IF YOU WANT TO HELP US PLEASE GIVE COMMENT AND DON'T FORGET TO SAY THANKS AND FURTHERMORE YOU CAN ALSO POST YOUR ARTICLES
Thursday, 08/12/2016, 01:22
[4Dl] - Download For Free -
Welcome Guest | RSS
Main Registration Login
Search

Site menu

Section categories
News [26]
Articles [22]
Kajian Islam [11]
Kata Mutiara [7]
Wisdom [7]
Pendidikan [3]
Puisi [29]
Kesehatan [42]
Sport [4]
Sepak Bola [4]
Piala Dunia 2010 [9]
Zeksualitas [6]
Life Style [2]
Kisah [1]
Kuliner [3]
Humor [4]
Software [1]
Anti-Virus [1]
Anti-Spyware [2]
Internet Tools [3]
Drivers [1]
Movies [8]
Music [4]
Multimedia [3]
Office [1]
Operating System [0]
Gosip [11]
Promosi [2]

Tag Board

Our poll
Rate my site
Total of answers: 3

Statistics

Total online: 1
Guests: 1
Users: 0

Main » 2010 » June » 10 » Mensucikan Jiwa
10:40
Mensucikan Jiwa
Mensucikan Jiwa


Bismillaahirrohmaanirrohiim,

Ditengah masyarakat, ada istilah umum yang bersifat sindiran bahwa : Ibadah haji didalam rukun Islam sekarang ini seolah-olah telah turun keperingkat 6, karena posisinya telah diambil alih oleh yang namanya : Membeli mobil.
Ini adalah sindiran secara halus yang ditujukan kepada orang-orang yang mengaku muslim, tetapi lebih mengutamakan membeli mobil dari pada kewajibannya untuk menunaikan haji.
Walaupun pada akhirnya mereka berhasil menunaikan ibadah haji, tapi yang menjadi persoalan adalah : lebih mendahulukan membeli mobil dari pada ibadah haji.
Ini hanya salah satu contoh dari berbagai jenis prioritas keduniaan yang mengalahkan nilai-nilai luhur agama didalam jiwa seseorang.
Yang jadi pertanyaan adalah : apakah benar nilai-nilai agama telah bergeser kepada nilai-nilai materialistis didalam jiwa umat Islam ?
Atau, ada apa didalam dada seseorang itu, sehingga kewajibannya dalam menjalani rukun Islam yang ke 5 itu dikalahkan oleh keinginan hawa nafsunya ?.
Jaman dahulu, orang begitu bangga jika sudah berhasil menunaikan ibadah haji.
Artinya : mereka bahagia karena berhasil mengalahkan hawa nafsunya dengan berkorban waktu, tenaga dan mengeluarkan uang jutaan rupiah untuk memenuhi panggilan Allah.
Tetapi orang (modern) sekarang, kebanggaannya justru terletak pada kemewahan gaya hidup dengan memiliki mobil atau rumah mewah.
Jika ada yang membantah : Apakah hal ini termasuk sebuah dosa ?
Memang bukan suatu dosa, tetapi yang namanya ber-Takbir, adalah me-Maha Besar-kan Allah.
Artinya : membesarkan atau mengutamakan Seruan dan Perintah Allah dari pada mentaati setiap keinginan diri yang mengarah kepada kesenangan dan kebanggaan hidup.
" Terangkanlah kepadaku tentang orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya. Maka apakah kamu dapat menjadi pemelihara atasnya?, atau apakah kamu mengira bahwa kebanyakan mereka itu mendengar atau memahami…... " S. Al Furqoon 43-44.
Salah satu arti menyembah adalah tunduk patuh dan mentaati apapun yang diperintahkan oleh yang disembah (diper-tuhankan) nya.
Berbuat karena menuruti keinginan diri (terutama yang menyenangkan dan enak), disebut Allah sebagai menyembah (memper-tuhankan) hawa nafsunya.
Disini kita tidak membicarakan masalah dosa dan pahala, tetapi mempersoalkan syrik khofi (halus) yang hampir setiap saat selalu menyertai kita tanpa kita sadari.
Seperti sabda Nabi saw. : " Syrik itu seperti seekor semut hitam, berjalan diatas batu yang hitam, ditengah kegelapan malam ".
Artinya : kita tidak bisa mengetahui adanya syrik hanya dengan kacamata logika kecuali dengan pengetahuan (ayat) yang mendalam disertai penghayatan dan kesadaran diri.
Dengan kata lain, masalah syrik itu tidak bisa diperdebatkan dengan akal pikiran tanpa merasakan sendiri melalui bukti atas sikap dan perbuatan kita, terhadap makna suatu ayat yang menerangkan masalah syrik itu sendiri.
Disini yang berbicara adalah kesadaran hati melalui perenungan dan penghayatan.
Seperti semua uraian diatas, jika kita hanya membacanya seperti membaca koran (tanpa penghayatan), sudah pasti hati kita akan menolak karena tidak sesuai dengan keyakinan kita selama ini, dan (yang berbahaya) tidak sesuai dengan keinginan kita.
Disinilah pentingnya mendidik jiwa dengan pengetahuan-pengetahuan akhirat (gaib) agar akal pikiran ini tidak hanya mampu menjangkau alam (dunia) yang tampak nyata dan berwujud kasar, tetapi yang terpenting adalah mampu memahami makna terdalam dari suatu dalil (ayat).
Dengan demikian, kita tidak hanya menjejali diri kita dengan pengetahuan dunia yang mengakibatkan kita termotifasi untuk meraih dunia sebanyak-banyaknya, tetapi kita wajib memberikan konsumsi kepada jiwa kita dengan ilmu akhirat yang membuat kita memiliki motifasi yang kuat untuk meraih kebahagiaan dan ketentraman hati, serta termotifasi untuk melakukan pangabdian dengan sungguh-sungguh dan ikhlas kepada Allah.
Jadi jiwa ini perlu dididik agar mempunyai kendali diri terhadap hal-hal yang tidak disenangi (di Ridloi) Allah.
Yaitu keinginan-keinginan yang serba enak, mudah dan menyenangkan terhadap dunia untuk konsumsi lahiriahnya.
Karena jika Allah tidak suka terhadap sikap dan perbuatan seseorang, maka pintu hatinya tidak akan dibuka untuk menerima kebenaran (Petunjuk), "…apakah kamu mengira bahwa kebanyakan mereka itu mendengar atau memahami…... "
Berawal dari sini, maka tidak ada jalan terbaik dan lebih selamat selain mengalihkan pusat perhatian kita kepada ‘membaca’ ayat-ayat Allah dari belenggu pengetahuan dunia, yang terbukti tidak pernah sekalipun membawa kita kepada keberkahan hidup (ketenangan jiwa).
Ini yang disebut berhijrah, yaitu berpindah dari syrik menuju Iman (tauhid).
Perlu disadari bahwa yang namanya pusat perhatian manusia itu hanyalah satu.
Kalau perhatian seseorang itu banyak, pasti ada salah satu yang menjadi pusatnya.
Nah jika pusat perhatiannya hanya tertuju kepada kesenangan jasmani yang berhubungan dengan duniawi, maka kebahagiaan rohani yang berkaitan erat dengan (keselamatan) akhirat akan terabaikan dan dinomer dua kan.
Jika konsentrasinya hanya terpusat kepada konsumsi kasar jasad lahiriahnya, maka dia akan mengabaikan sektor batiniahnya yang sesungguhnya juga membutuhkan konsumsi.
Yaitu sesuatu yang sangat halus berupa pengetahuan (ayat-ayat) yang membuat jiwanya sadar dan termotifasi untuk menghamba.
Karena Allah ber Sifat Maha Halus (Al Latif) dan harus didekati dengan kehalusan jiwa (hati) yaitu halusnya sikap dan budi pekerti (akhlak terpuji).
Pada kondisi perhatian yang terpusat pada faktor dunia, orang akan sulit mengendalikan tuntutan-tuntutan hawa nafsunya.
Dan tanpa sadar, penghambaannya kepada Allah telah dikalahkan oleh unsur duniawi yang terlanjur disukainya.
Lalu apa yang membuat manusia sangat mudah sekali mencintai dan menghamba kepada selain Allah, disamping dia sendiri telah mengaku sebagai hamba Allah (sikap mendua) ?
Penyebab utamanya tidak lain adalah : manusia cenderung memperhatikan keindahan alam dunia yang tampak nyata ini hanya dengan panca indera dan akal pikirannya, tanpa pernah memperhatikan semua itu dengan hatinya.
Dari perhatiannya yang terlalu sering dan terlalu fokus, mengakibatkan orang menyenangi dan menginginkan yang tampak indah, cantik, mewah dan nikmat ini.
Disinilah manusia itu memiliki kehendak yang amat kuat terhadap dunianya, tapi membenci dan menjauhi apapun yang ‘tampak’ buruk, menyakitkan, dan menyulitkan baginya.
Padahal dibalik kesulitan dan kepahitan hidup, terdapat nilai-nilai luhur yang membawanya kepada sikap sabar dan rendah hati (jalan menuju akhirat).
" Wanafsiwwamaa sawwaahaa fa alhamahaa fujuurohaa wataqwaahaa qod aflaha man zakkaahaa waqod khooba man dassaahaa ",
" dan jiwa serta penyempurnaannya (ciptaannya), maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketakwaannya, sesungguhnya beruntunglah orang yang mensucikan jiwa itu, dan sesungguhnya merugilah orang yang mengotorinya " S. Asy Syams 7-10.
Penyembahan kepada Allah membutuhkan kesucian rohani selain juga kesucian jasmani.
Seperti halnya sholat membutuhkan kesucian diri dengan berwudlu’.
Namun apalah artinya suci jasmaninya sedangkan rohaninya masih tetap najis dan kotor ?
Oleh sebab itu, prioritas utama kita dalam mengabdi kepada Allah harus dimulai dengan kesucian jiwa.

Sesungguhnya apa arti kesucian diri dibalik pengabdian kepada Allah ?
Seperti yang kita ikrarkan disetiap sholat bahwa : " Inna sholaati wanuzuuki wamahyaaya wamaati lillaahi robbil ‘aalamiin ", " Sesungguhnya sholatku dan ibadahku serta hidup dan matiku hanyalah untuk (mengabdi kepada) Allah, Tuhan seru sekalian alam ", maka yang namanya pengabdian kepada Allah itu adalah mentaati, tunduk patuh terhadap semua yang diperintahkan dan dilarang Allah tanpa ada sedikitpun sikap membantah.
Nah sikap yang tulus ikhlas ini hanya bisa dicapai jika manusia telah mampu menundukkan seluruh keinginan dirinya yang bertentangan dengan apa yang di Kehendaki Allah.
Dengan demikian apapun yang akan kita lakukan, hendaknya kita renungkan dulu, apakah hal itu diridhloi Allah atau tidak.
"…..Kamu menghendaki harta benda duniawiyah sedangkan Allah menghendaki (pahala) akhirat (untukmu). Dan Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana " S. Al Anfaal 67.
Pada hakikatnya, kehendak diri yang menginginkan, mementingkan dan mengutamakan dunia untuk kesejahteraan hidup inilah sebagai penyebab utama kotornya jiwa manusia.
Memang disatu sisi hal ini adalah sikap terpuji, karena tidak merepotkan dan bergantung kepada orang lain.
Tetapi dalam kenyataannya, manusia justru menanggung resiko yang amat besar, yaitu tumbuhnya sifat-sifat negatif didalam dirinya.
Oleh sebab itu, berawal dari sini, manusia menjadi bersikap individualistis yang tidak lagi menghiraukan kesulitan orang lain (bersifat bakhil dan masa bodoh).
Berawal dari sini, orang memiliki sifat iri dan dengki jika melihat orang lain mendapat keuntungan atau kebahagiaan.
Dan berawal dari keberhasilannya dalam memperoleh (harta / ilmu) dunia, orang menjadi sombong, tinggi hati, suka menghina (walau didalam hati), bahkan ujub dan takabur.
Ini berarti manusia telah berhasil diperbudak oleh hartanya, sehingga hanya mementingkan dirinya sendiri.
Manusia telah diperbudak oleh tahta dan kepandaian (ilmu)nya, sehingga dia bersikap tinggi hati dan sombong dihadapan orang yang rendah kedudukan dan ilmunya.
Seseorang telah berhasil diperbudak oleh (kecantikan) istrinya, sehingga mau melakukan tindakan-tindakan yang tidak terpuji.
Nah, jika penyakit-penyakit hati ini tumbuh subur didalam diri seseorang, mungkinkah dia bisa melakukan penyembahan kepada Allah secara ikhlas ?
Jika segala sesuatu selain Allah itu telah berhasil menjadikan manusia sebagai budaknya, mungkinkah orang itu bisa menghamba lurus hanya kepada Allah (bertauhid) ?
Karena itu Allah menyebut orang-orang musyrik itu najis (S. At Taubah 28).
Dari sini menjadi jelas bahwa yang namanya beribadah kepada Allah, harus didasari oleh kesucian diri, yaitu benar-benar harus meng-Esakan Allah (bertauhid)
Oleh sebab itu Syahadat ditempatkan diurutan pertama dalam rukun Islam, sebagai syarat utama tegak dan lurusnya suatu pengabdian.
Dengan demikian yang namanya sholat, tidak cukup hanya membersihkan jasad lahiriah dengan berwudlu’.
Tetapi yang lebih penting lagi adalah mensucikan jiwa dari sikap syrik dan kemunafikan.

Suci seperti bayi yang baru lahir
Rasulullah saw. bersabda : " Seorang anak dilahirkan dalam keadaan fitrah (suci), orang tuanyalah yang menjadikan dia Yahudi, Nasrani atau majusi ".
Jika kita cermati seorang bayi yang dikatakan dalam keadaan suci, maka yang jelas kesucian anak bayi itu bukan karena dia telah berwudlu’, tetapi kesucian jiwanya yang tidak terkontaminasi oleh sifat-sifat sombong dan bangga diri serta menyekutukan Allah (syrik).
Apa yang membedakan kondisi jiwa anak bayi yang suci itu dengan kita yang banyak dosa?
Perbedaan yang paling menonjol adalah :
1. Anak bayi yang baru lahir belum mempunyai penglihatan, pendengaran atau belum berfungsinya seluruh panca indera dan akal pikirannya.
Tetapi walaupun demikian, bukan berarti dia tidak mempunyai pengetahuan apapun.
Hanya saja dia tidak mengetahui apapun selain pengetahuannya terhadap Tuhannya, yaitu sejak Allah mengambil kesaksiannya sebelum dimasukkan kedalam kandungan ibunya,
"….dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman): "Bukankah Aku ini Tuhanmu?" Mereka menjawab: "Betul (Engkau Tuhan kami), kami menjadi saksi"….S. Al A’raaf 172.
Inilah pengetahuan sekaligus kesaksian awal dan hanya satu-satunya (tauhid) dari seorang manusia, sehingga dia disebut suci.
Hanya saja tidak ada seorangpun yang mengingatnya.
Karena itu Allah mengingatkannya melalui kitab suci Al Qur’an.
Nah jika menjelang awal penciptaannya sebagai manusia (didalam kandungan) sampai dengan difungsikan panca inderanya, tidak ada sesuatupun yang diketahui seorang bayi melainkan ‘kesaksiannya’ terhadap Kebesaran Tuhannya, maka sebaliknya, semua wujud ciptaan bisa diketahui dan ‘disaksikan’ manusia dewasa kecuali Wujud Nya Sang Pencipta.
Disinilah manusia tidak mampu mengetahui apalagi meyakini dengan total terhadap sesuatu yang bersifa@  �<@ alam pengetahuannya hanya tertuju kepada segala sesuatu yang bersifat dzohir (tampak).
Suatu saat Nabi saw. didatangi seorang laki-laki yang matanya buta sejak lahir, " Ya Rasul, mohonkanlah kepada Allah agar saya bisa melihat keindahan dunia ini walau sebentar saja ".
Nabi saw. bersabda : " Jangan, kamu lebih baik dalam keadaan seperti itu ".
Namun orang buta itu tetap meminta dan Nabi saw. selalu menolaknya, sampai kejadian itu berlangsung tiga kali.
Karena terus didesak, sampai akhirnya Rasulullah saw. memenuhi permintaannya dan berdo’a kepada Allah.
Tapi apa yang terjadi ?, ketika mata orang itu bisa melihat alam dunia, sesaat kemudian dia menangis tersedu-sedu karena sangat menyesal.
Lalu meminta ampun dan meminta kepada Nabi agar Allah mengembalikan dia dalam keadaan buta seperti sedia kala.
Ada hikmah yang sangat besar dibalik kejadian ini, yaitu : kesempurnaan manusia itu tidak terletak pada matanya yang bisa melihat, tidak terletak pada panca indera yang berfungsi normal atau otaknya yang bisa berpikir, tetapi sejauh mana ‘mata’ dan ‘telinga hatinya’ mampu melihat dan mendengar mana (Wujud) yang hak dan mana yang batil.
Jika seorang bayi itu dikatakan buta, tuli, bisu dan bodoh, tetapi mengapa Rasulullah saw. menyebut dia adalah manusia yang suci ?
Jika orang mengatakan surga itu tempatnya orang yang beramal saleh, tapi mengapa bayi yang mati dan tidak pernah beramal saleh itu dijamin masuk surga, bahkan tanpa dihisab ?
Memang seorang bayi itu bodoh karena tidak mempunyai akal pikiran, tapi pada hakikatnya dialah orang yang berakal sempurna karena hanya mengetahui dan menyaksikan Allah.
Bandingkan dengan diri kita yang dikatakan berakal cerdas karena mengetahui banyak tentang dunia dan segala isinya, tapi pada hakikatnya kita ini orang-orang yang bodoh karena tidak mengetahui Wujud Nya Allah melalui ayat-ayat Nya.
" Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda (Kebesaran Allah) bagi orang-orang yang berakal, (yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): "Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia. Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka " S. Ali ‘Imraan 190-191.
Orang berakal adalah orang yang hatinya selalu mengingat Allah dalam keadaan apapun juga, sedangkan mata dan akal pikirannya terfokus kepada Maha Besar Nya Allah dalam menciptakan langit dan bumi, siang dan malam, laki-laki dan perempuan, malaikat dan setan, baik dan buruk, surga dan neraka dsb.
Artinya, mata lahir dan akal pikirannya memang mengetahui semua yang tampak ada, tetapi hatinya meyakini dengan kuat bahwa ada ‘ Tangan ‘ Tuhan yang menciptakannya.
Keyakinan hatinya sangat kuat bahwa pada hakikatnya, segala sesuatu yang terjadi bukan berasal dari sebab musabab, tetapi Kekuasaan Allah-lah yang membuat semuanya terjadi.

2. Anak bayi yang baru lahir tidak mempunyai keinginan apapun selain kebutuhannya terhadap makanan untuk jasad tubuhnya.
Walaupun dia lahir dalam keadaan telanjang bulat dan tidak membawa bekal serta kemampuan apapun, dia tidak merasa malu ataupun takut menjalani hidup, karena rasa bergantungnya yang total kepada Allah.
Sikap kepasrahan yang total inilah yang menjadikan Allah memberikan ketentraman kedalam hatinya dan memberikan apapun kebutuhan lahiriahnya melalui sifat kasih sayang yang ditanamkan kedalam hati ibunya.
Inilah bukti nyata bahwa Allah Maha Bertanggung jawab terhadap apapun yang diciptakan Nya.
Tidak ada satupun yang dilalaikan Nya, tidak ada sesuatupun yang ditelantarkan Nya, semuanya di Urus dan di Pelihara oleh Allah.
Kecuali manusia yang merasa mampu mengurus dirinya sendiri, kecuali orang-orang yang ragu atau bahkan tidak yakin terhadap Sifat Nya Allah yang Maha Memelihara semuanya.
Dan juga orang-orang yang tidak suka dibawah kepengurusan Allah, tapi lebih memilih cara hidupnya sendiri dengan memilih (menghendaki) kenikmatan-kenikmatan dunia.
Karena memilih dunia akan terasa lezat dan manis, sedangkan jika menuruti Kehendak Nya Allah yang menghendaki akhirat, terasa pahit dan amat menyiksa jasad tubuhnya.
"…..Kamu menghendaki harta benda duniawiyah sedangkan Allah menghendaki (pahala) akhirat (untukmu)….”
Ini adalah jenis manusia-manusia yang dibiarkan Allah (tidak mendapatkan petunjuk dihatinya) dan tidak memperoleh Pertolongan Allah baik didunia maupun diakhirat.
Oleh sebab itu, jika kita menghendaki kebahagiaan dan keselamatan dunia serta akhirat, tidak ada jalan lain kecuali kembali kepada Allah.
Dengan kata lain, tidak ada jalan terbaik selain menyesuaikan kehendak kita dengan apa yang Dikehendaki Allah.
" Dan orang-orang yang menjauhi thaghut (yaitu) tidak menyembahnya dan kembali kepada Allah, bagi mereka berita gembira; sebab itu sampaikanlah berita itu kepada hamba-hamba-Ku, yang mendengarkan perkataan lalu mengikuti apa yang paling baik di antaranya. Mereka itulah orang-orang yang telah diberi Allah petunjuk dan mereka itulah orang-orang yang mempunyai akal " S. Az Zumar 17-18.
Dunia dan apapun selain Allah adalah thagut (berhala-berhala) yang tidak layak dicintai, diikuti, diutamakan dan ditakuti (disembah).
Karena mereka akan merusak akal kita sehingga tidak bisa fokus kepada Allah, dan merusak hati kita sehingga menjadi orang yang suka iri, dengki, dendam dan bakhil, serta sibuk mengurusi diri sendiri tapi membiarkan saudaranya yang hidup dalam kesempitan.
Dengan kata lain, akan merusak hati sehingga gelap dan tidak mendapat Cahaya dari Allah.
Nah, bagaimana caranya kembali kepada Allah ?
Mengendalikan hawa nafsu dengan jalan memerangi setiap keinginan yang bertentangan dengan Kehendak Allah.
Mengendalikan hawa nafsu dengan jalan melawan setiap hasrat yang akan menjauhkan dan melalaikan kita dari Allah.
Karena dengan tunduk dan tenggelamnya hawa nafsu, qolbu akan naik kepermukaan dan siap menerima hidayah-hidayah Allah yang akan membimbingnya menuju ketaatan kepada Allah tanpa ada rasa berat dan terpaksa (ikhlas).
Karena bagaimana mungkin hidayah dari Allah yang terus-menerus memancar itu akan bisa hinggap dihati kita jika qolbu kita tenggelam sedangkan yang muncul dan mendominasi wilayah didalam dada ini adalah hawa nafsu ?
Karena itu berpuasa menjadi salah satu rukun Islam yang wajib dijalani oleh umat Islam.
Dengan berpuasa dibulan Romadlon, yaitu mengendalikan setiap keinginan hidup yang berlebih-lebihan (walaupun itu halal), orang akan keluar dari Romadlon dalam keadaan suci seperti bayi yang baru lahir (‘Idul Fitri).
Tetapi sebelum jiwa seseorang itu menjadi suci (bertemu ‘Idul Fitri), ada beberapa hal yang harus dijalani dan harus ditemui dibulan suci Romadlon.
Yang harus dijalani diantaranya adalah : sholat Tarawih (qiyamul lail), membaca Al Qur’an dan membayar zakat fitrah.
Sedangkan yang mesti ditemui (dialami) adalah : turunnya Wahyu (tanggal 17 Romadlon) dan bertemu lailatul qodar.
Nah pada hakikatnya, semuanya itu tidak hanya terjadi pada bulan puasa saja, melainkan juga bisa terjadi setiap saat.
Yaitu saat-saat ketika seseorang itu berusaha memerangi hawa nafsunya demi mencapai kebersihan hatinya.
Yaitu saat-saat ketika seseorang itu memerangi dan menghacurkan berhala-berhala yang selama ini disembah (dicintai)nya, demi mencapai tegak dan bersihnya qolbunya, seperti sabda Nabi saw. : " Qolbu mukmin baiturrohman ", " Hatinya orang mukmin adalah Rumah (tempat) Maha Pemurah Nya (Allah) ".

Jadi intinya, jiwa akan bisa tersucikan dengan 2 pilar utama yaitu : akal yang banyak –banyak membaca ayat-ayat Allah dan mengedalikan hawa nafsu melalui perlawanan terhadap keinginan-keinginan diri.

Wallohu ‘alam bishshowaab.

Category: Kajian Islam | Views: 241 | Added by: tri | Rating: 0.0/0
Total comments: 0
Only registered users can add comments.
[ Registration | Login ]
Login form

Calendar
«  June 2010  »
SuMoTuWeThFrSa
  12345
6789101112
13141516171819
20212223242526
27282930

Entries archive

Site friends
  • Create a free website

  • Copyright MyCorp © 2016