Dunia Panggung Sandiwara - 10 June 2010 - !! -- For Download -- !!
IF YOU WANT TO HELP US PLEASE GIVE COMMENT AND DON'T FORGET TO SAY THANKS AND FURTHERMORE YOU CAN ALSO POST YOUR ARTICLES
Saturday, 10/12/2016, 11:56
[4Dl] - Download For Free -
Welcome Guest | RSS
Main Registration Login
Search

Site menu

Section categories
News [26]
Articles [22]
Kajian Islam [11]
Kata Mutiara [7]
Wisdom [7]
Pendidikan [3]
Puisi [29]
Kesehatan [42]
Sport [4]
Sepak Bola [4]
Piala Dunia 2010 [9]
Zeksualitas [6]
Life Style [2]
Kisah [1]
Kuliner [3]
Humor [4]
Software [1]
Anti-Virus [1]
Anti-Spyware [2]
Internet Tools [3]
Drivers [1]
Movies [8]
Music [4]
Multimedia [3]
Office [1]
Operating System [0]
Gosip [11]
Promosi [2]

Tag Board

Our poll
Rate my site
Total of answers: 3

Statistics

Total online: 1
Guests: 1
Users: 0

Main » 2010 » June » 10 » Dunia Panggung Sandiwara
10:34
Dunia Panggung Sandiwara
Dunia Panggung Sandiwara


Bismillaahirrohmaanirrohiim,

Ketika kaki kita menginjak bumi, maka dengan kekuatan grafitasi bumi, kita tidak bisa melepaskan diri darinya sehingga kita sangat bergantung kepadanya.
Kemanapun bumi itu melayang diangkasa bebas, kitapun akan terbawa.
Jika bumi itu mengalami goncangan-goncangan didalam dirinya, seperti terjadi gempa, angin puyuh atau tsunami yang kedatangannya tidak bisa kita prediksi, kitapun ikut menjadi korban.
Selain itu, bumi yang selalu mengitari matahari dan berputar pada porosnya, membuat kita terbawa arus putarannya, sehingga kitapun mengalami suasana siang dan malam.
Tidak hanya itu saja, keberadaan kita yang terlanjur melekat kuat pada bumi, membuat jasad lahiriyah kita sangat membutuhkan konsumsi dan apapun yang berasal dari bumi.
Demikianlah suasana manusia yang hidup diatas permukaan bumi yang tidak bisa lepas dari apapun yang ada dan yang terjadi di bumi.
Sehingga manusia menganggap bumi sangatlah penting, besar dan agung serta tidak ada seorang pun yang mampu hidup diluar bumi.
Tetapi fakta telah membuktikan lain.
Ternyata manusia juga mampu hidup diluar bumi.
Siapakah dia ? itulah para astronot yang terbang keluar angkasa.
Mereka tidak lagi berpijak dan bergantung pada bumi, tetapi berpijak dan bergantung dengan sarana lain yang disebut pesawat luar angkasa.
Ketika sudah terbang diluar angkasa, mereka tidak lagi memandang bumi sebagai tempat yang besar, tapi sebagai sesuatu yang sangat kecil dan hampir tidak berarti apa-apa.
Ketika sudah diangkasa, mereka sudah bebas dari grafitasi bumi sehingga bisa terbang bebas kemanapun dia suka.
Dan yang terpenting lagi, ketika mereka sudah tidak lagi berpijak dan bergantung dengan bumi, mereka sudah bebas dari bencana dan musibah apapun yang terjadi dimuka bumi.
Atau dengan kata lain, mereka sudah bebas dari suasana siang (yang diibaratkan dengan kesenangan) dan malam (kesedihan) sebab selalu mendapat sinar matahari terus-menerus.
Ini adalah sebuah gambaran singkat bahwa ketika hati manusia berada di alam kesucian (karena mendapat Nur Allah), dia akan merasakan hidup dengan tenang dan berbahagia.
Karena hatinya tidak lagi terpaut dan bergantung dengan dunia (cinta dunia).
Dalam kondisi seperti ini, dirinya terasa ringan dalam menjalani semua persoalan hidup dan ringan dalam menjalankan pengabdian kepada Allah.
Jiwa raganya terasa ringan karena tidak ada lagi kegelapan dan kegelisahan hidup.
Karena hati yang resah dan gelisah, adalah hati yang melekat kuat pada urusan-urusan dunia.
Pada hakikatnya, dunia dan segala beban hidup yang ditanggung manusia, hanyalah sebagai ujian dari Allah.
Orang yang lulus dari ujian Allah, adalah orang yang tidak terbebani oleh ujian hidupnya tetapi mengembalikan beban hidup itu kepada (sebagai amanah) Allah.
Dalam situasi yang seperti ini, dunia dan segala kemewahannya bukan lagi menjadi sesuatu yang sangat istimewa, melainkan situasi biasa dan normal yang tidak akan menyita segenap perhatiannya.
Karena pada hakikatnya, dunia dan segala kejadian serta hiruk pikuknya, hanyalah sebuah permainan atau sandiwara kehidupan.
" Dan tiadalah kehidupan dunia ini melainkan senda gurau dan main-main. Dan sesungguhnya akhirat itulah yang sebenarnya kehidupan, kalau mereka mengetahui " S. Al ‘Ankabuut 64.
Kalimat : "…..kalau mereka mengetahui…..”, menunjukkan betapa pentingnya mengetahui alam akhirat (minimal memiliki pengetahuan-pengetahuan tentang akhirat) untuk mendobrak dominasi pengetahuan dan kecintaan kepada dunia yang menguasai jiwa seseorang.
Seperti Rasulullah saw. yang mengetahui alam akhirat, mengetahui surga dan neraka disaat melakukan mi’raj, dan juga para wali (hamba) Allah yang hatinya sering terbang ke langit.
Karena selagi manusia itu tidak mengetahui alam akhirat, dia akan menjadikan kehidupan didunia ini sebagai kehidupan yang sesungguhnya, yaitu dia akan mengerahkan segenap potensi dirinya untuk meraih kebahagiaan hidup didunia.
Jika konsentrasi dan seluruh potensinya dikerahkan untuk urusan-urusan dunia, maka jelas arah pandang kepada akhirat akan diabaikannya.
Jadi, dunia bukanlah sebagai tujuan tetapi sebagai jembatan untuk mencapai alam akhirat yang kekal.
Dengan demikian, hidup didunia harus dilewati dengan usaha yang sungguh-sungguh untuk mencapai kebahagiaan akhirat.
Bukan dilalui dengan bermalas-malasan, berfoya-foya dan selalu mementingkan diri sendiri, serta terlalu sibuk untuk urusan duniawi saja.
Karena barang siapa yang berbuat demikian, sungguh dia telah bermain-main dan bersenda gurau dalam menjalani agamanya.
Agama hanya dijadikan sebagai status bahwa dia telah beragama.
Allah hanya dijadikan sebagai tempat pelarian jika sewaktu-waktu dia terkena musibah.
Sedangkan disaat senang, dia lalai kepada Allah dan malas menjalani ibadah.
Inilah orang-orang yang telah tertipu oleh keindahan dan kenikmatan duniawi, sehingga tanpa sadar mereka telah menyembahnya (mengutamakan kehidupan dunia).
Yaitu orang-orang yang hanya memburu kesenangan hidup tetapi hatinya lalai atau tidak mengetahui (mengenal) serta tidak menghendaki pertemuan dengan Pencipta hidup.
" Sesungguhnya orang-orang yang tidak mengharapkan (tidak percaya akan) pertemuan dengan Kami, dan merasa puas dengan kehidupan dunia serta merasa tenteram dengan kehidupan itu dan orang-orang yang melalaikan ayat-ayat Kami, mereka itu tempatnya ialah neraka, disebabkan apa yang selalu mereka kerjakan " S. Yunus 7-8.
Ketentraman hidup yang dimaksud oleh Islam, bukanlah kebahagiaan yang disebabkan oleh harta yang melimpah, segala perabotan rumah tangga terpenuhi, fasilitas hidup yang lengkap, istri yang cantik atau anak-anak yang sehat.
Tetapi kebahagiaan hidup yang disebabkan oleh Cahaya (hidayah) dari Allah.
Oleh sebab itu, walaupun rumah Rasulullah saw. sangat sederhana, tidurnya hanya diatas tikar, tidak memiliki fasilitas apapun, bahkan makanpun tidak pernah kenyang, beliau tetap berkata : " Baiti jannati ", artinya : " Rumahku adalah surgaku ".
Ini mengandung arti : yang dimaksud surga bukanlah rumah yang mewah atau sederhana, rumah yang sejuk atau panas, tetapi hati yang sejuk oleh siraman Nur dari Allah.
Hati yang mendapatkan hidayah, akan memandang kesederhanaan sebagai kemewahan, dan akan merasakan nikmatnya makan walaupun memakan makanan yang apa adanya.
Disinilah pentingnya uzzlah, yaitu hati yang terbang pergi meninggalkan dunia untuk mencari (Petunjuk dari) Pencipta dunia.
Seperti yang dijalani Rasulullah saw. dengan bertapa di gua Hira sampai beliau mendapat wahyu (Al Qur’an) yang pertama.
Namun bukan berarti kita harus bertapa di gua-gua, di pemakaman para wali atau tempat-tempat keramat, tetapi menyisihkan sebagian waktu kita (Qiyamul lail) dari keramaian dan keindahan dunia untuk merenungi wujud dan kejadian diri yang diciptakan Allah.
"Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah ( mengabdi kepada) Ku " S. Adz Dzaariyaat 56.
Tujuan Allah menciptakan manusia adalah untuk menyembah Nya.
Namun perlu disadari bahwa yang namanya menyembah Allah, bukanlah secara langsung menyembah Allah, seperti langsung mengerjakan sholat, langsung berpuasa, berhaji, lalu setelah itu urusannya selesai.
Menjalani syari’at semacam itu memang tujuan semua orang yang mengaku muslim.
Tetapi yang namanya tujuan, mestinya harus diawali dengan langkah-langkah awal untuk mencapai tujuan tersebut, bukan langsung menuju kepada apa yang dituju.
Demikian juga dengan menjalani syari’at-syari’at Allah sebagai wujud penyembahan kita kepada Allah, harus ada langkah-langkah awal untuk mencapai penyembahan yang benar.
Yang terpenting adalah harus mengkondisikan diri (akal pikiran dan hati) untuk berada di alam atau suasana yang suci dan hening serta mengutamakan ibadah dari pada yang lain.
Bukan dalam keadaan hati yang dikotori dengan kecintaan kepada dunia dan pikiran yang ramai oleh banyaknya rencana aktifitas hidup, serta menjadikan ibadah sebagai aktifitas hidup nomer dua atau nomer sekian.
Karena Allah dalam keadaan Maha Suci dan Maha Esa serta sangat mengutamakan kepentingan para hambanya.
Seperti sholat yang kita lakukan 5 kali setiap hari.
Hampir setiap akan mengerjakan sholat, tidak pernah sekalipun kita berpindah suasana (alam), dari suasana alam dunia yang ramai dan berorientasi kepada kepentingan jasad lahir, kepada suasana sunyinya akal pikiran dan hati dari berbagai kepentingan hidup.
Begitu suara adzan terdengar, kita langsung mengambil air wudlu’ lalu mengerjakan sholat.
Sholat yang langsung dikerjakan seperti ini, jelas tidak akan menghasilkan kekhusyu’an.
Karena aktifitas keduniaan sebelum kita mengerjakan sholat (seperti mengerjakan sesuatu, berbincang atau bersenda gurau dengan teman, istri), belum hilang dari ingatan kita dan belum bisa mendiamkan hati kita dari suasana keruh akibat dari kegiatan jasmani.
Perlu kita sadari bahwa yang namanya aktifitas apapun, pasti akan mempengaruhi akal pikiran dan hati.
Jika hal ini tidak kita hilangkan, pasti akan terbawa dan mempengaruhi suasana ibadah kita.
Namun masalahnya, hampir mustahil kita bisa menghilangkan ingatan dan pemikiran itu dalam waktu singkat, apalagi hal itu sampai menyangkut kedalam hati.
Oleh sebab itu, yang terbaik adalah tidak menjadikan aktifitas dan masalah-masalah dunia tersebut sampai masuk kedalam hati, tapi cukup kita pikirkan dengan menggunakan akal dan kita kerjakan dengan perbuatan.
Dengan demikian, hati akan tetap sejuk walaupun kepala kita panas (karena berpikir) atau badan kita terasa lelah karena berbuat.

Hidup bersandiwara
Hati bukanlah tempat bagi dunia dan semua permasalahan hidup.
Oleh sebab itu hati harus bersih dari berbagai kesibukan dan masalah, serta apapun keinginan terhadap dunia.
Dari sini hati akan pandai melihat mana yang seharusnya kita yakini (yang hak) dan mana yang tidak pantas kita pertuhankan (yang batil).
Hati sebagai tempat limpahan rahmat dari Allah, sebagaimana sabda Rasul saw. : " Qolbu mukmin baiturrohmaan ", maka hati hanya pantas diisi dengan pengetahuan tentang Maha Pemurah Nya (ayat-ayat) Allah.
Artinya : yang pantas dilakukan oleh hati hanyalah melihat Af ‘al Nya Allah dalam memenuhi apapun kebutuhan kita.
Dengan demikian, semua permasalahan dan kebutuhan hidup hanya cukup kita kerjakan dengan anggota badan dan kita pikirkan dengan akal yang jernih.
Tidak perlu semua itu kita khawatirkan apalagi kita takutkan.
Karena pada hakikatnya, apapun yang telah terjadi dan akan terjadi, semuanya telah tertulis dan telah ditetapkan Allah.
" Tiada suatu bencanapun yang menimpa di bumi dan (tidak pula) pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam kitab (Lauh Mahfuzh) sebelum Kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah. (Kami jelaskan yang demikian itu) supaya kamu jangan berduka cita terhadap apa yang luput dari kamu, dan supaya kamu jangan terlalu gembira terhadap apa yang diberikan-Nya kepadamu. Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang sombong lagi membanggakan diri, (yaitu) orang-orang yang kikir dan menyuruh manusia berbuat kikir. Dan barangsiapa yang berpaling (dari perintah-perintah Allah) maka sesungguhnya Allah Dia-lah Yang Maha Kaya lagi Maha Terpuji. " S. Al Hadiid 22-24.
Semua yang ada dan yang terjadi didalam langit bumi dan seisinya, adalah merupakan ciptaan Allah yang sebelumnya telah direncanakan dan ditetapkan Allah sejak jaman azali.
Diibaratkan sebuah permainan sandiwara, maka sebelum sandiwara itu digelar, sang sutradara pasti telah menyiapkan segala sesuatunya dengan baik dan sempurna.
Mustahil sandiwara yang baik itu akan terwujud jika tidak direncanakan dan permainannya tidak diatur oleh sang sutradara.
Pada saat sandiwara itu dimainkan, sutradaralah yang mengatur seluruh kejadian yang diperankan oleh masing-masing aktor dan aktris, serta mengatur suasana yang mendukung terjadinya sebuah kejadian.
Seorang aktor atau aktris yang baik adalah :
1. Orang yang mengetahui bahwa dirinya adalah orang yang dipilih dan dipercaya oleh sang sutradara untuk menjadi pemeran dalam memainkan apa yang diperankannya.
Untuk itu dia akan memainkan perannya dengan sungguh-sungguh untuk menyenangkan hati sutradaranya serta untuk mengangkat derajat dirinya sebagai aktor yang baik, sehingga akan menjadi orang yang dikagumi dan dimuliakan.
2. Orang yang mengenal siapa dirinya dan mengenal siapa sutradaranya.
Yaitu dia mengenal dirinya sebagai pelaku yang harus tunduk dan taat terhadap perintah dan larangan sutradaranya yang berkuasa penuh atas dirinya.
Dengan demikian dia tidak akan membantah sedikitpun terhadap maksud (kehendak) sutradaranya jika suatu saat dia harus memerankan adegan yang tidak disukainya.
3. Orang yang selalu mengoreksi dirinya dan berusaha untuk memperbaiki segala kelemahannya dalam berakting.
Sehingga ketika dia harus berperan didalam suasana yang tidak bersahabat, baik fisik dan mentalnya telah siap tanpa berkeluh kesah.
4. Walaupun fisiknya berusaha dan bekerja keras, serta akal pikirannya berkonsentrasi untuk memainkan perannya, tetapi hatinya tetap tenang karena mengetahui bahwa semuanya hanyalah permainan sandiwara yang pasti akan ada akhirnya.
Nah, diri kita ini sesungguhnya adalah pemeran utama didalam cerita hidup kita yang telah ditulis Allah didalam kitab (lauh mahfuzh).
Apapun yang terjadi pada diri kita, semuanya sudah menjadi suratan Takdir, baik yang telah lampau, saat sekarang maupun nanti.
Semuanya telah menjadi ketetapan Allah yang tidak bisa ditolak ataupun diminta.
"…..(Kami jelaskan yang demikian itu) supaya kamu jangan berduka cita terhadap apa yang luput dari kamu, dan supaya kamu jangan terlalu gembira terhadap apa yang diberikan-Nya kepadamu…..”
Jika kita benar-benar beriman kepada Kodrat Irodat Nya Allah, tentunya tidak ada yang perlu disangkal mengenai apapun yang terjadi atas diri kita sebagai Ketetapan dari Allah.
Jika kita betul-betul beriman kepada Takdir Nya Allah, tentunya kita wajib bersabar atas musibah yang menimpa diri kita dan bersyukur atas karunia yang Allah berikan kepada kita.
Jangan sampai sudah mengaku beriman, tetapi masih membantah dan tidak menerima atas apapun yang ditetapkan Allah atas diri kita.
Yaitu sikap berkeluh kesah dan sedih hati jika tidak mendapat apa yang kita harapkan, dan bergembira ria sampai lupa daratan (bakhil) atas apapun yang diberikan Allah.
Padahal apapun musibah dan kesulitan hidup, belum tentu akan membuat kita bertambah buruk, dan apapun yang kita sukai, belum tentu itu baik bagi kita.
" Diwajibkan atas kamu berperang, padahal berperang itu adalah sesuatu yang kamu benci. Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui " S. Al Baqoroh 216.
Kita tidak tahu apa yang akan terjadi pada diri kita esok hari.
Oleh karena itu tidak ada jalan yang lebih baik dan lebih selamat selain berserah diri dan menerima apapun Ketetapan Nya Allah dengan jiwa yang lapang.
Perlu kita sadari bahwa diri kita adalah makhluk (ciptaan) yang tidak memiliki kemampuan dan kekuasaan sedikitpun juga terhadap apapun juga (laahaula walaa quwwata illa billaah).
Semuanya wajib kita serahkan kepada Pengaturan dan Kebijaksanaan Allah, sebagai Dzat Yang Maha Mengatur dan Mengurus segala sesuatu dengan sangat Bijaksana.
" Allah, tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia Yang Hidup kekal lagi terus menerus mengurus (makhluk-Nya); tidak mengantuk dan tidak tidur. Kepunyaan-Nya apa yang di langit dan di bumi….." S. Al Baqoroh 255.
Inilah sikap dan kepribadian seorang muslim (berserah diri) yang benar.
Yaitu orang yang benar-benar khusyu’ dan ikhlas dalam menghamba (menyembah) kepada Allah, baik dikala lapang (suka) maupun sempit (duka).
Kita hidup ini bukan atas kehendak dan permintaan kita, tapi Allah-lah yang menghendaki dengan menciptakan dan menhidupkan kita.
Kalau hidup dan keberadaan kita ini atas Kehendak Nya Allah, untuk apa kita susah-susah mengatur dan mengurus hidup kita ?
Kalau kita masih tetap sibuk mengurus diri kita, menuntut ini dan itu, hal ini sama dengan meragukan atau bahkan tidak mempercayai Allah sebagai Pengatur nomer wahid.
Allah Maha Bertanggung Jawab terhadap semua yang diciptakan Nya, mustahil Allah akan menelantarkan kita dengan tidak memberikan bagian atau hak-hak kita.
Mustahil Allah tidak akan memberi makan kepada kita, mustahil Allah tidak akan mendidik kita, mustahil Allah tidak akan membahagiakan kita.
" dan Tuhanku, Yang Dia memberi makan dan minum kepadaku, dan apabila aku sakit, Dialah Yang menyembuhkan aku, " S. Asy Syu’araa’ 79-80.
Mustahil Allah tidak akan memberi makan dan minum kepada kita, mustahil Allah tidak akan menyembuhkan sakit kita.
Atau dengan kata lain : mustahil Allah tidak akan memberikan hasil atas jerih payah kita asalkan kita mau sungguh-sungguh berusaha, asalkan kita mau menggerakkan anggota tubuh kita, asalkan kita mau memfungsikan panca indera dan akal pikiran kita dengan benar.
Dan yang terpenting, asalkan hati kita diam atau tidak mencampuri Urusan Nya Allah yang Berkuasa dan Berkehendak menentukan nasib dan apapun kedudukan kita.
Tuntutan untuk hidup enak, keinginan untuk memperoleh hasil yang besar, kemauan yang kuat untu menjadi orang penting dan dihormati, semua ini akan membuat Allah membiarkan kita, tidak menolong kita dan tidak memberikan Rahmat dan Rahim Nya.
Seperti diterangkan Al Qur’an tentang keinginan Nabi Adam as. untuk hidup kekal didalam surga.
Seandainya (kalau boleh berandai-andai) Nabi Adam as. menyerahkan diri sepenuhnya kepada Kehendak dan Ketetapan Nya Allah dan tidak menuruti keinginan hawa nafsunya untuk hidup selamanya didalam surga, niscaya Allah akan menambah lagi nikmat Nya kepada Nabi Adam.
Pada hakikatnya kita ini sudah hidup bahagia bagai didalam surga, jika kita mengetahui nikmat-nikmat Allah yang telah diberikan kepada kita (bersyukur) lalu menerimanya dengan senang hati (qona’ah).
Hanya saja karena kita selalu menginginkan kenikmatan yang lebih banyak dan meningkat taraf hidup kita, malah membuat kita tidak bisa menikmati hidup walau didalam bergelimangnya harta.
Boleh-boleh saja berusaha keras untuk meningkatkan taraf hidup, apalagi membangun peradaban Islam juga membutuhkan biaya yang sangat besar.
Tetapi kalau aktifitas dan permasalahan hidup itu ternyata malah membuat kita semakin jauh dari Allah dan semakin berat (terbebani) dalam menjalankan pengabdian kepada Allah, berarti ada yang salah didalam diri kita.
Yaitu : suatu anggapan yang meyakini bahwa tanpa berusaha, manusia tidak akan bisa melangsungkan hidupnya.
Tanpa bekerja, orang tidak akan bisa makan.
" Bagi manusia ada malaikat-malaikat yang selalu mengikutinya bergiliran, di muka dan di belakangnya, mereka menjaganya atas perintah Allah. Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri. Dan apabila Allah menghendaki keburukan terhadap sesuatu kaum, maka tak ada yang dapat menolaknya; dan sekali-kali tak ada pelindung bagi mereka selain Dia " S. Ar Ra’d 11.
Pada ayat ini dengan tegas dinyatakan bahwa yang mengubah keadaan suatu kaum (seseorang) itu bukan dirinya ataupun usahanya, tetapi Allah.
Kalimat : "…sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri…” menunjukkan bahwa manusia hanya sekedar menjalankan usahanya melalui ilmu dan kerja kerasnya, tetapi Allah-lah yang menentukan hasilnya.
Jangan sampai setelah berusaha dengan mengerahkan segenap ilmu dan kemampuan kita, lalu kita berkeluh kesah terhadap hasil yang tidak sesuai dengan harapan kita.

Nah, membedakan keyakinan yang tertuju kepada Allah dengan keyakinan yang tertuju kepada usaha dirinya, memang tidak mudah.
Tetapi tolok ukur yang bisa membedakan dengan jelas adalah : apakah dia sangat gembira jika berhasil dan bersedih atau berkeluh kesah jika gagal ?….ataukah jiwanya tetap tenang dalam menyikapi kegagalan atau keberhasilannya.
Rasulullah saw. bersabda : " Janganlah kalian seperti para pekerja yang buruk akhlaknya. Mereka hanya mau bekerja jika mendapatkan upah (hasil). Tetapi jika tidak mendapatkan upah mereka tidak mau bekerja ".
Ini semakin mempertegas bahwa pada hakikatnya yang menentukan hasil atau tidaknya hanyalah Allah.
Jangan sampai masalah upah atau hasil itu menjadi bahan pemikiran kita, yang membuat hati menjadi keruh dan gelap sehingga melalaikan Allah sebagai Tuhan yang telah menetapkan segala sesuatu.
" Dan tiap-tiap manusia itu telah Kami tetapkan amal perbuatannya (sebagaimana tetapnya kalung) pada lehernya. Dan Kami keluarkan baginya pada hari kiamat sebuah kitab yang dijumpainya terbuka " S. Al Israa’ 13.
Pada hakikatnya, setiap perbuatan kita dan semua jerih payah kita, semuanya adalah Ketetapan dan merupakan Karunia Allah yang wajib kita syukuri.
Jangan merasa tinggi hati setelah dijadikan Allah sebagai motor yang mampu menghidupkan suasana disekitar kita.
Kita ini bukanlah penentu yang berhak menentukan berhasil atau tidaknya usaha kita, tetapi sebagai pelaku atas semua ketentuan yang telah Allah tetapkan.

Wallohu ‘alam bishshowaab.

Category: Kajian Islam | Views: 272 | Added by: tri | Rating: 0.0/0
Total comments: 0
Only registered users can add comments.
[ Registration | Login ]
Login form

Calendar
«  June 2010  »
SuMoTuWeThFrSa
  12345
6789101112
13141516171819
20212223242526
27282930

Entries archive

Site friends
  • Create a free website

  • Copyright MyCorp © 2016