Budaya Facebook Mahasiswa - 27 September 2010 - !! -- For Download -- !!
IF YOU WANT TO HELP US PLEASE GIVE COMMENT AND DON'T FORGET TO SAY THANKS AND FURTHERMORE YOU CAN ALSO POST YOUR ARTICLES
Saturday, 10/12/2016, 13:52
[4Dl] - Download For Free -
Welcome Guest | RSS
Main Registration Login
Search

Site menu

Section categories
News [26]
Articles [22]
Kajian Islam [11]
Kata Mutiara [7]
Wisdom [7]
Pendidikan [3]
Puisi [29]
Kesehatan [42]
Sport [4]
Sepak Bola [4]
Piala Dunia 2010 [9]
Zeksualitas [6]
Life Style [2]
Kisah [1]
Kuliner [3]
Humor [4]
Software [1]
Anti-Virus [1]
Anti-Spyware [2]
Internet Tools [3]
Drivers [1]
Movies [8]
Music [4]
Multimedia [3]
Office [1]
Operating System [0]
Gosip [11]
Promosi [2]

Tag Board

Our poll
Rate my site
Total of answers: 3

Statistics

Total online: 1
Guests: 1
Users: 0

Main » 2010 » September » 27 » Budaya Facebook Mahasiswa
18:29
Budaya Facebook Mahasiswa
pasti banyak yang kgn. tgg khadiranku kmbali d fb huhu (Putri Adistya Muchtar). Mandi dulu ah …. enaknya kalau libur…(Detti Artsanti). prat…pret… prat…pret… baunya tuhhhhhhhhhhhhhhhhh (Lya Rara). Satu jam saja……..(Cut Nur Afni)

Kata-kata di atas sengaja saya ambil seutuhnya dari status facebook beberapa teman yang sedang online. Putri Adistya adalah mahasiswa Universitas Syiah Kuala Banda Aceh, Detti Artsanti seorang aktivis yang bekerja di Komnas Perempuan, Lya Rara tidak saya ketahui kecuali di situsnya menyebut dirinya sedang berhubungan dengan Indra Alam Ade, dan Cut Nur Afni adalah perempuan Aceh yang kini tinggal di Jerman.

Ketika kata-kata itu dituliskan kembali, terlihat betapa anehnya kalimat-kalimat itu. Kata-kata tersebut mirip bahasa SMS yang ditempelkan pada head pribadi penggunanya, yang dalam istilah facebook disebut status. Mungkin pemahaman status oleh sang perancang facebook, Mark Zurkerberg adalah state of mind, status pikiran penggunanya, yang bisa mewakili perasaan, pikiran, rencana singkat tentang apapun. Biasanya status ini diganti secara periodik untuk memperlihatkan aktivitas penggunanya. Fajroel Rachman, mantan aktivis mahasiswa yang pernah mencalonkan diri sebagai presiden dari jalur indendepen sering menuliskan aktivitas yang akan dilakukannya pada status facebook.

Komunikasi Virtual
Motto resmi facebook adalah jaringan maya yang memiliki fungsi sosial, bertujuan menghubungkan seseorang dengan teman-temannya terkait kerja, studi, dan kehidupan di sekitarnya.

"Orang menggunakan facebook demi mempertahankan persahabatannya, meskipun sang sahabat tidak berada di tempat yang sama”, demikian pesan yang disampaikan Mark Zuckerberg, sang penggagas facebook.

Dalam kenyataannya facebook ternyata bukan hanya menghubungkan sahabat yang telah lama terpisah, seperti yang banyak kita dengar dari penggunanya tapi juga "teman-teman baru”, seseorang di antah-berantah dan secara fisik belum pernah bertemu.

Fenomena inilah yang disindir oleh Umberto Eco, seorang filsuf budaya asal Italia sebagai hiperrealitas (hyper-reality). Industri media seperti facebook menjadi media yang memermak realitas sedemikian rupa dan menstimulasi fantasi penggunanya ke arah serba palsu (fake). Dalam tulisannya Travel in Hyperreality (1975), Umberto mengatakan industri media, secara khusus menyorot Amerika Serikat sebagai negara paling progresif mengembangkan industri media dan citra, telah berhasil memproduksi sesuatu melebihi realitas. Realitas dalam media bukan hanya direproduksi, tapi juga diperbaiki, sehingga menjadi "kebajikan virtual seluruh fiksi dan kebudayaan” (a true of virtually all fiction and culture).

Kritik Eco tiga puluh tahun lalu itu dulunya dianggap tendensius, berlebihan, sangat posmo, dan tidak ilmiah, kini terlihat memiliki korelasi ketika berbicara tentang budaya facebook. Sebenarnya, sebelum facebook telah ada beberapa beberapa laman komunikasi berjaringan di dunia maya, seperti Twitter, Friendster, My Space, tapi kecanggihan facebook sebagai media blog dan komunikasi interaktif sekaligus telah melahirkan citra komunikasi yang terasa "alamiah”. Tak heran jika seorang teman sampai menganggap facebook sebagai hikmah komunikasi baru, karena berhasil mempererat silaturrahmi dengan teman-teman lama, apalagi di momen Ramadhan seperti ini.

Apakah benar begitu? Buktinya silaturahmi itu hanya terjadi di dunia maya dan tidak berwujud di dunia nyata. Pertemanan itu hanya simulacra, foto kopi pertemanan dan bukan pertemanan sejati. Mengutip sosiolog Inggris, Anthony Giddens, teknologi komunikasi modern telah memadatkan ruang dan waktu (compression of time and space). Pemadatan ini melahirkan konsekuensi-konsekuensi sosial dan budaya yang seharusnya mampu dirumuskan sebagai tantangan baru yang lebih beradab dan humanis. Namun sayangnya konsekuensi modernisasi komunikasi ini tidak berdampak pada makin berkualitasnya hubungan sosial, bahkan menjadi autisme hingga anti-sosial.

Pertanyaannya, apakah tantangan itu dipahami oleh para pengguna facebook (Indonesia)? Kalau melihat sketsa status facebooker yang saya kutip di atas, lebih tepat menyebut sebagai tragedi dibandingkankan rahmat.

Yang paling menderita tentu saja bahasa. Sistem kebahasaan (langue) yang dalam pandangan Saussure semestinya makin kreatif di tangan penggunanya, malah menuju bunuh diri parole (bahasa dalam praktik) sebagai alat komunikasi. Terkesan bahwa pengguna bahasa hanya mengganti bahasa ujar ke dalam bahasa tulis, bukan mentransformasinya. Di samping itu tujuan komunikasi semakin kabur (kepada siapa sesungguhnya kata-kata itu disampaikan? Mengapa begitu mempribadi seperti catatan harian?). Bahkan bermunculan apa yang disebut oleh Roland Barthes sebagai najis bahasa, sisa-sisa linguistik yang tidak bisa ditentukan statusnya. Siapa yang dapat menjadi hakim? Kita tahu facebook tidak hadir di ruang privat, tapi di ruang publik. Suara kentut pun mendapat tempat di facebook. Saya bayangkan era buku diari atau coretan di dinding telah berakhir. Kini kata-kata seperti itu berterbangan ke ruang publik, lepas-bersambut-tangkap.

Post-Facebook?
Sudah dekat waktu bagi para akademisi sosial-humaniora menganggap serius kehadiran facebook sebagai produk budaya komunikasi massa baru.

Jauh hari Barthes, pengamat media dari Perancis, telah melihat bahwa era komunikasi massa mulai beralih, dari pesan literal kepada pesan citra (image). Maka tidak tepat lagi melihat peran budaya komunikasi massa dalam konteks linguistik Sausserian, ketika penanda (bahasa) mewakili petanda (pikiran) yang bisa dipahami sosial. Bahasa saat ini bukan lagi konvensi sosial, tapi telah jatuh sangat dalam pada kode-kode khusus yang hanya dipahami oleh penggunanya. Peradaban literal hancur, peradaban citra muncul dengan permainan kode-kodenya (Barthes, Rethoric of Image).

Bahasa yang hadir di dalam facebook, boleh jadi pemberontakan untuk keluar dari rejim kebahasaan tertentu. Namun, bisa jadi bentuk banalitas linguistik, sejenis kebahlulan yang menyebar dalam kode-kode sosial masyarakat: menabrak tabu, melawan ketidak-setujuan, dan menyebar anarki yang merusak praktik demokrasi budaya bahasa. Mungkin akan hadir sumpah facebooker Indonesia : berbahasa satu, bahasa sesukanya

Bisa jadi ini hanya permulaan dalam budaya komunikasi massa. Entah apa lagi setelah "buku muka” (facebook). Mungkin akan hadir selanjutnya "buku lengan”, "buku hidung”, atau "buku bokong”.

(Referensi : http://teukukemalfasya.wordpress.com/2009/10/02/facebook-budaya-komunikasi-posmo/)

=================
Nama : Adhie Prasojo
NPM   : 17109259
Kelas : 5KA22
Tugas Bahasa Indonesia 1
=================
Category: Articles | Views: 756 | Added by: act | Tags: Articles, Mahasiswa, facebook, Budaya | Rating: 0.0/0
Total comments: 0
Only registered users can add comments.
[ Registration | Login ]
Login form

Calendar
«  September 2010  »
SuMoTuWeThFrSa
   1234
567891011
12131415161718
19202122232425
2627282930

Entries archive

Site friends
  • Create a free website

  • Copyright MyCorp © 2016