Berjihad di Jalan Allah - 10 June 2010 - !! -- For Download -- !!
IF YOU WANT TO HELP US PLEASE GIVE COMMENT AND DON'T FORGET TO SAY THANKS AND FURTHERMORE YOU CAN ALSO POST YOUR ARTICLES
Saturday, 10/12/2016, 13:57
[4Dl] - Download For Free -
Welcome Guest | RSS
Main Registration Login
Search

Site menu

Section categories
News [26]
Articles [22]
Kajian Islam [11]
Kata Mutiara [7]
Wisdom [7]
Pendidikan [3]
Puisi [29]
Kesehatan [42]
Sport [4]
Sepak Bola [4]
Piala Dunia 2010 [9]
Zeksualitas [6]
Life Style [2]
Kisah [1]
Kuliner [3]
Humor [4]
Software [1]
Anti-Virus [1]
Anti-Spyware [2]
Internet Tools [3]
Drivers [1]
Movies [8]
Music [4]
Multimedia [3]
Office [1]
Operating System [0]
Gosip [11]
Promosi [2]

Tag Board

Our poll
Rate my site
Total of answers: 3

Statistics

Total online: 1
Guests: 1
Users: 0

Main » 2010 » June » 10 » Berjihad di Jalan Allah
10:28
Berjihad di Jalan Allah
Berjihad di Jalan Allah


Bismillaahirohmaanirrohiim, 

Setelah pulang dari perang besar, Rasulullah saw. bersabda : " Kalian telah memenangkan perang yang kecil menuju perang yang lebih besar "
Para sahabat bertanya : " Perang apa ya Rasul ? "
Rasul saw. menjawab : " Yaitu berperang melawan hawa nafsu ".
Tidak dapat disangkal lagi bahwa tegak dan lurusnya Islam didalam diri seorang muslim adalah : telah terkendalinya hawa nafsu yang selama ini berhasil menguasai dirinya.
Karena tanpa disadari, didalam menjalani setiap aktifitas hidupnya selama ini, hampir seluruh umat manusia selalu didorong dan digerakkan oleh hawa nafsunya.
Padahal setiap perbuatan yang digerakkan oleh hawa nafsunya, akan membuat seseorang itu semakin menjauh dari Allah dan semakin mendekat kepada kematian hati
Hati yang mati adalah hati yang tidak mengandung nilai-nilai sosial kemanusiaan.
Oleh sebab itu tidak heran jika pola hidup manusia semakin lama semakin bertambah kacau (tidak taat aturan), sangat jauh dari norma-norma kesusilaan, mementingkan diri sendiri dan kelompoknya, semakin banyak orang yang terkena penyakit dan rusaknya tatanan dunia.
Dan parahnya lagi, semakin banyak ulama-ulama khusus yang dipanggil Allah.
Salah satu bukti yang sangat jelas bahwa manusia digerakkan oleh hawa nafsunya adalah : manusia sangat mengharapkan dan sangat berambisi untuk mendapatkan hasil dari setiap perbuatannya.
Memang dengan adanya ambisi, motifasi seseorang akan semakin meningkat.
Tetapi konsekwensinya, jika tidak mendapatkan hasil atau hasilnya tidak sesuai dengan harapannya, dia menganggapnya sebagai musibah sehingga akan membuatnya marah-marah, kecewa atau minimal berkeluh kesah.
" Sesungguhnya manusia diciptakan bersifat keluh kesah lagi kikir. Apabila ia ditimpa kesusahan ia berkeluh kesah, dan apabila ia mendapat kebaikan ia amat kikir, kecuali orang-orang yang mengerjakan shalat, yang mereka itu tetap mengerjakan shalatnya, "S. Al Ma’arij 19-23.
Dan sebaliknya, jika usahanya itu membuahkan hasil, dia akan menjadi orang yang lupa diri karena sangat gembira dan amat bangganya.
Orang yang terlalu gembira dan sangat bangga dengan kesuksesannya, disebut Allah sebagai orang yang tidak mensyukuri nikmat karena lupa kepada Allah sebagai Pemberi nikmat (salah satunya berupa keberhasilan itu).
Jika kesuksesannya untuk mendapatkan harta dan kekayaan itu diakui dan diyakini sebagai hasil dari jerih payahnya sendiri (bukan dari Allah), maka orang-orang seperti ini akan bersifat bakhil atau merasa berat untuk berzakat dan bersedekah.
Kalau ada yang menyangkal : " Lalu untuk apa berbuat kalau tidak ada hasilnya ? ".
Yang namanya berusaha pasti akan ada hasilnya, baik itu menguntungkan atau merugikan.
Tapi hendaknya kita tidak terlalu senang jika berhasil dan tidak berkeluh kesah jika gagal.
Karena kita adalah makhluk yang hanya berhak berusaha, sedangkan Allah adalah Pencipta segala sesuatu yang berhak menentukan hasilnya.
Dan yang lebih penting lagi, apalah artinya memperoleh apa yang kita harapkan jika Allah tidak meridloinya.
Karena hasil yang tidak diridloi Allah, pasti akan membawa musibah dikemudian hari.
Dan yang lebih berbahaya lagi, dengan adanya hasil (harta) yang telah diperolehnya, orang akan menjadi budak harta dan budak dunia.
Rasulullah saw. bersabda : " Janganlah kalian bersikap seperti para pekerja yang buruk budi pekertinya. Dia hanya mau bekerja jika mendapatkan upah, tapi jika tidak mendapatkan upah dia tidak akan bekerja ".
Dari sini sudah sangat jelas bahwa bekerja karena ingin mendapatkan hasil, adalah suatu perbuatan yang tidak didasarkan karena Allah.
Dengan kata lain : tujuan utamanya adalah hasil, bukan untuk mencari Ridlo Nya Allah.
Disinilah seorang muslim harus benar-benar berserah diri sepenuhnya kepada Allah, yaitu menyerahkan hasil apapun yang akan dia dapatkan berdasarkan pilihan Allah.
Namun untuk mencapai kondisi seperti ini, terlebih dulu dia wajib memerangi semua keinginan hawa nafsunya yang orientasinya hanya tertuju kepada materi duniawi.
Agar keinginan jiwa yang rendah menjadi sirna dan berganti keinginan yang lebih tinggi,
Jadi hawa nafsu yang sudah terkendali, adalah jiwa yang telah tunduk (berserah diri) setelah dikalahkan melalui perjuangan yang sangat berat, melelahkan dan terus menerus.
Hal ini telah dituntun oleh syari’at Islam, yaitu melalui berpuasa dibulan Romadlon yang intinya adalah untuk memerangi hawa nafsu.
Begitu hawa nafsu seseorang itu telah berhasil dikalahkan dan terkendali lalu dia keluar dari bulan Romadlon baik secara lahir dan batinnya, maka jadilah dia seorang yang suci seperti bayi yang baru lahir.
Yaitu suatu jiwa yang benar-benar telah menghamba kepada Tuhannya, karena telah menyaksikan Allah sebagai satu-satunya Tuhan, Laa ilaaha illallaah.
Namun kondisi seperti ini tidak berlaku bagi semua umat Islam yang berpuasa, melainkan sebagian kecil dari mereka yang betul-betul berpuasa.
Tanda-tandanya, hatinya selalu dilimpahi Nur Nya Allah (seperti yang terjadi pada diri Nabi saw. yang mendapat wahyu yang pertama atau biasa disebut malam nuzulul Qur’an).
Dan puncaknya, dia mendapat apa yang biasa disebut malam Lailatul Qodar.
Jika kondisinya sudah seperti ini, maka seluruh gerak dan diamnya, semua perkataan atau diamnya, adalah karena Allah, bukan lagi karena hasrat hawa nafsunya.
Disinilah berlaku kalimat : berbuat karena Allah, berkata karena Allah, tidur karena Allah, diam dan marah karena Allah, berperang dan membunuh karena Allah.
Dengan demikian, amar ma’ruf nahi munkar yang ditegakkan oleh seorang muslim sejati, harus diawali dari tegaknya Islam didalam dirinya.
Dan Islam baru bisa tegak didalam dirinya jika dia telah berhasil menegakkan sholat baik secara lahir dan batinnya.
Jika ada yang bertanya : " Kalau begitu semua orang Islam wajib diam, tidak melakukan amar ma’ruf nahi munkar sebelum dirinya bersih dari dosa ? ".
Bukan begitu, hal itu tetap harus dikumandangkan dan ditegakkan tetapi kapasitasnya sebagai ajakan bukan sebagai perintah.
Karena jauh lebih ringan melakukan ibadah bersama-sama (berjama’ah) dari pada berbuat sendiri-sendiri.
Ajakan dan perintah sangat jelas perbedaannya.
Ajakan bersifat lembut dan santun, jika berhasil tidak menimbulkan kebanggaan dan jika tidak mau mengikuti, tidak menimbulkan kekecewaan.
Sedangkan perintah bersifat teguran dan bersifat paksaan yang sering diikuti kemarahan atau kedongkolan hati jika orang yang kita ajak atau kita perintah itu tidak mau mengikuti.
Tetapi jika yang kita ajak atau kita perintah itu menuruti kemauan kita, maka timbullah sikap bangga diri (ujub).
Dalam kondisi seperti ini, yang menggerakkan diri kita dalam melakukan amar ma’ruf nahi munkar itu adalah ke-aku an kita, bukan murni dari Allah, walaupun yang kita lakukan itu bersifat baik sesuai dengan syari’at.
Demikian juga dalam melakukan jihad melawan kekafiran dimuka bumi.
Harus diawali dengan berjihad melawan hawa nafsu kita terlebih dahulu.
Jika tidak, maka jihad yang dilakukan itu cenderung merusak tatanan yang sudah ada, dan membunuh orang-orang yang tidak bersalah, seperti yang dilakukan para teroris.
Contoh yang sangat nyata adalah perang yang dilakukan sahabat Ali r.a.
Ketika dia sedang bertempur satu lawan satu dengan musuhnya, lalu pedang musuh telah terpental dari tangannya dan sang musuh itu terjatuh tidak berdaya, maka sahabat Ali pun siap menghujamkan pedang kepada musuhnya.
Namun sebelum peristiwa itu terjadi, tiba-tiba sang musuh meludahi dirinya.
Mendapat penghinaan seperti itu, seketika itu juga sahabat Ali mengurungkan niatnya yang hendak membunuh, tapi malah menarik tangan sang musuh untuk diajak bangkit berdiri.
Dengan penuh keheranan musuhnya bertanya : " Mengapa kamu tidak membunuh aku ? "
Sahabat Ali ra menjawab "Jika aku membunuhmu, maka aku tidak membunuh karena Allah"
Melihat akhlak seorang muslim seperti itu, musuh itupun lalu masuk Islam.
Secara logika, siapapun juga tidak akan membenarkan tindakan sahabat Ali ra. seperti itu.
Tetapi agama Islam bukan agama logika, melainkan agama yang menggunakan hati nurani.
Yaitu agama yang tidak membenarkan setiap tindakan yang dilakukan karena mengikuti hawa nafsunya.
Dalam situasi diludahi dan dihina seperti itu, siapapun juga pasti tersulut kemarahannya.
Tetapi bagi jiwa yang suci, dia akan berbuat bukan karena kemarahan yang digerakkan hawa nafsunya, melainkan oleh Kekuatan dan Kehendak dari Allah (yang Hak).
Karena itu begitu emosi sahabat Ali ra. mulai naik karena diludahi, dia menarik pedangnya, karena dia tidak ingin membunuh musuhnya dengan dicampuri kemarahan hawa nafsunya.

Jiwa adalah penggerak hidup manusia
Perlu disadari bahwa aktifitas manusia dalam menjalani hidup, semuanya digerakkan oleh jiwanya.
Karena pada saat orang itu tidur, jiwalah yang diambil Allah masuk didalam KekuasaanNya.
" Allah memegang jiwa (orang) ketika matinya dan (memegang) jiwa (orang) yang belum mati di waktu tidurnya; maka Dia tahanlah jiwa (orang) yang telah Dia tetapkan kematiannya dan Dia melepaskan jiwa yang lain sampai waktu yang ditentukan. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda kekuasaan Allah bagi kaum yang berfikir " S. Az Zumar 42.
Ada 2 keadaan yang selalu terjadi pada diri manusia, yaitu hidup atau mati dan bangun atau tidur.
Orang yang mati atau tidur, jiwanya berada didalam Genggaman Kekuasaan Allah, sehingga tidak ada sedikitpun kemampuan (kekuatan dan kekuasaan) untuk melakukan apa yang dikehendakinya, Laa haula wala quwwata illabillaah.
Seperti contoh pada saat kita tidur pulas lalu bermimpi buruk dikejar-kejar sesuatu yang sangat kita takuti.
Kemanapun kita pergi dia selalu mengikuti, dimanapun kita bersembunyi dia selalu tahu dan mengejar kita, seolah-olah tidak ada satu tempatpun yang aman bagi kita.
Dalam keadaan seperti itu, siapa yang dapat kita andalkan untuk menolong diri kita ?.
Keluarga kita yang selama ini membantu kita, tidak nampak untuk menolong kita.
Uang atau harta kita, tidak berguna sedikitpun untuk meringankan penderitaan kita.
Sesungguhnya didalam diri ini, ada keinginan untuk keluar dari suasana mimpi seperti ini.
Namun tidak ada kemampuan sedikitpun untuk keluar dari suasana buruk seperti itu, sampai ada orang lain yang membangunkan kita.
Ini artinya, didalam suasana yang lain dari suasana sehari-hari, atau didalam alam mimpi seperti itu, kemampuan dan kehendak diri yang biasanya membuat kita lari menjauhi hal-hal atau keadaan yang tidak menyenangkan, tidak lagi mampu menghindar dari suasana itu.
Semakin kuat (jiwa) kita memberontak atau menghindar dari suasana buruk tersebut, semakin tersiksalah diri kita.
Oleh sebab itu orang yang sangat mencintai dunianya, saat datang ajal menjemputnya, sesungguhnya jiwanya tidak mau memasuki alam barzah yang sangat gelap, sendirian saja dan sangat menakutkan itu.
Namun hal ini tidaklah mungkin bisa terjadi, karena "…Dia tahanlah jiwa (orang) yang telah Dia tetapkan kematiannya…..”.
Disini, di alam ini, yang berlaku secara mutlak adalah Maha Kuasa (Kodrat irodat) Nya Allah dalam menentukan apapun yang terjadi pada orang yang telah dipanggil Nya.
Jika Allah Menghendaki adanya azab kubur baginya, pasti akan terjadi dan tidak dapat ditolaknya.
Tidak ada tawar menawar, tidak ada negoisasi apalagi suap menyuap.
Tapi sebaliknya jika Allah menghendaki kebahagiaan didalam kuburnya (alam barzah) maka dia akan merasakan seperti sabda Rasulullah saw : "…seperti tidurnya pengantin baru ".
Nah, kebahagiaan atau penderitaan dialam barzah, intinya tidak terlepas dari kebiasaan seseorang itu dalam mensikapi apapun Ketetapan Nya Allah dialam dunia.
Jika (lahiriah) seseorang itu terbiasa bersikap taat pada syari’at dan (batiniahnya) sabar terhadap sesuatu yang tidak menyenangkannya, maka kegelapan dialam barzah tidak membuatnya tersiksa.
Karena dia sudah terbiasa mengabdi (taat pada syari’at) dan menderita (berpuasa), baik secara lahir maupun batinnya oleh keadaan yang tidak menyenangkannya.
" Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar, (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan, "Innaa lillaahi wa innaa ilaihi raaji`uun". Mereka itulah yang mendapat keberkatan yang sempurna dan rahmat dari Tuhan mereka, dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk " S. Al Baqoroh 155-157.
Pada hakikatnya, yang membuat seseorang itu tidak bisa bersabar atau tidak menerima keadaan yang menyusahkannya, adalah jiwanya yang terbiasa memperoleh kesenangan.
Karena terbiasa dengan kesenangan, maka dia akan menderita jika ditimpa kesedihan.
Karena terbiasa berkumpul dengan keluarga atau teman akrab, maka dia akan merasa tersiksa jika sedang sendirian.
Karena terbiasa dengan selalu membawa uang banyak, dia akan tersiksa jika tidak mempunyai uang.
Karena terbiasa berkumpul dengan wanita cantik, dia akan menderita jika berkumpul dengan wanita tua yang sudah keriput.
Inilah jiwa-jiwa pemberontak yang berusaha lari dari kenyataan yang ada (tidak qona’ah).
Padahal dibalik kesabaran dalam menerima ujian Allah yang tidak menyenangkan itu, Allah akan memberikan kebahagiaan hati (petunjuk) yang nilainya jauh lebih besar dari pada kesenangan duniawi yang selalu dikejarnya.
Intinya, dibalik penderitaan fisik dan sesuatu yang tidak disukai hawa nafsu, terdapat rahmat dan petunjuk Allah sebagai kekayaan yang menyelamatkan hidup setelah alam dunia.
Disinilah pentingnya mendidik jiwa dengan melakukan ketaatan kepada Allah dan yang tak kalah pentingnya adalah melatih diri dengan suasana yang tidak menyenangkan atau berbuat sesuatu (kebaikan) yang tidak disukai hawa nafsu.
Seperti berpuasa, berzakat atau bersedekah, berkurban, menyendiri dengan bertafakur, menolong orang lain, dsb.
Pada dasarnya semuanya itu adalah perbuatan-perbuatan yang tidak disukai hawa nafsu.
Intinya, semakin banyak seseorang itu membuang baju-baju dunianya, semakin besar pula cahaya yang menerangi ruang dadanya.
Hanya saja, kondisi seperti ini masih belum akan mendapatkan Nur jika kita mengerjakan dengan terpaksa atau berbuat karena sebab.
Seperti membantu orang karena kasihan, memberi karena membalas jasa, beramal sholeh karena ingin mendapat pahala, sholat karena ingin masuk surga, dsb.
Semuanya ini belum disebut karena Allah (Lillah), tapi berbuat karena ingin mendapat hasil.
Berbuat karena Allah, tidak mempunyai tendensi apapun selain mengharapkan Ridlo Nya Allah.
Dan Ridlo Nya Allah akan turun jika kita melakukannya dengan hati yang senang.
Yaitu suatu kondisi yang mapan atas kesadaran diri (bukan karena terpaksa) dan betul-betul membutuhkan (rahmat dan hidayah) Allah, bukan yang lain.
Nah, kondisi seperti ini hanya bisa tercapai jika kita telah berhasil masuk kedalam alam atau suasana yang tidak ada unsur dunia dan kepentingan diri.
Yaitu dengan jalan bertafakur atau membaca ayat-ayat Allah, terutama membaca Maha besar Nya Allah dalam menciptakan apapun wujud dan kejadian diri kita.
Karena tanpa melihat kedalam (mengenal) diri, kita tidak pernah akan tahu hakikat wujud dan kejadian diri kita yang fana, sehingga kita tidak pernah menjadi hamba yang pandai bersyukur.
Yaitu orang yang kufur terhadap nikmat-nikmat Allah, sehingga jadilah dia sebagai orang yang selalu mencari nikmat yang berasal dari luar dirinya (dunia dan segala kemewahannya).
Orang yang tidak pernah tahu nikmat sangat besar didalam dirinya, maka jiwanya menjadi kosong sehingga dia akan mencari kesenangan-kesenangan yang berasal dari luar dirinya.
Akibatnya, dia sangat mudah tergiur oleh kenikmatan yang ditawarkan dari luar dirinya.

"…..dan Dia melepaskan jiwa yang lain sampai waktu yang ditentukan. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda kekuasaan Allah bagi kaum yang berfikir "
Jiwa yang dilepaskan untuk melanjutkan hidup, bukan berarti jiwa itu dilepaskan dan bebas dari Kekuasaan Allah, tetapi jiwa yang tetap diberi kuasa dari Sifat Maha Kuasa Nya Allah.
Hanya saja jiwa itu diberi kebebasan untuk memilih, menghamba kepada Allah atau menghamba kepada dunia dan apapun selain Allah.
Dan jiwa yang benar-benar menghamba kepada Allah, akan menggerakkan jasad tubuhnya bukan karena pengaruh lingkungan, hukum sebab akibat atau perencanaan daya akalnya.
Tetapi jiwa yang menggerakkan jasad lahir atas perintah langsung dari Allah.
Seperti yang dilakukan Nabi Ibrahim as. yang tampaknya seperti ‘menelantarkan’ Siti Hajjar yang sedang hamil tua ditengah padang pasir yang sangat ganas dan tidak ada tanda-tanda kehidupan sama sekali.
Secara logika orang akan menilai bahwa tindakan Nabi Ibrahim as. itu adalah tindakan yang kejam, atau suami yang tidak punya belas kasihan kepada istrinya yang sedang hamil tua.
Dalam hal ini, yang mengambil keputusan bukan lagi wilayah hati yang mempunyai sifat belas kasih dan rasa cinta (sifat-sifat manusiawi), tetapi sudah masuk didalam wilayah ‘hakikatnya diri yang fana’.
Karena itu begitu Siti Hajjar akan ditinggal oleh Nabi ibrahim as. sendirian ditengah padang pasir yang sangat ganas itu, dia bertanya : " Apakah ini perintah dari Tuhanmu ? ".
Nabi Ibrahim as. menjawab : " Batul ".
Lalu, walaupun dengan berat hati, Nabi Ibrahim as. meninggalkan istri dan calon anaknya.
Dan fakta membuktikan bahwa dibalik pengorbanan meninggalkan istri dan calon anaknya, dibalik penderitaan hidup yang dialami Siti Hajjar untuk bertahan hidup ditengah padang pasir yang amat ganas itu, terkandung nilai historis dan manfaat yang sangat besar di kemudian hari.
Yaitu berdirinya Baitullah dan semua aturan-aturan dalam menunaikan haji, disamping sebagai cikal bakal berdirinya kota Mekkah sebagai pusatnya dunia.
Disini dapat ditarik suatu hikmah, bahwa yang namanya pengorbanan, baik dari segi fisik, materi maupun pengorbanan jiwa, akan membuahkan hasil yang sangat luar biasa dikemudian hari.
Jangan memandang penderitaannya, jangan melihat besar kecilnya pengorbanan, jangan melihat hasil apa yang akan diperoleh, tetapi lihatlah manfaat yang sangat besar yang bisa dirasakan orang banyak dikemudian hari.
Nah, diri kita yang diberikan kesempatan melanjutkan perjalanan hidup, sungguh sangat rugi jika hanya digunakan untuk beraktifitas sebatas mentaati kehendak nafsu.
Karena tidak ada nilai-nilai yang bisa dipetik dikemudian hari (akhirat), bahkan akan menghasilkan buah (perbuatan) yang sangat busuk dan banyak ulatnya, yaitu perbuatan-perbuatan yang merugikan orang lain dan menyengsarakan diri sendiri dikemudian hari.
" dan jiwa serta penyempurnaannya (ciptaannya), maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketakwaannya, sesungguhnya beruntunglah orang yang mensucikan jiwa itu, dan sesungguhnya merugilah orang yang mengotorinya " S. Asy Syams 7-10.
Kesucian jiwa hanya bisa diperoleh hanya dengan memerangi setiap keinginan hawa nafsu.
Tapi tidak mungkin kita akan bisa mengalahkan hawa nafsu kita dengan usaha kita sendiri.
Jangankan diri kita, Tuhan sebagai Penciptanya saja dilawan (baca : Kesombongan yang tersembunyi).
Yang bisa mengalahkan hawa nafsu hanyalah Allah sebagai Pemilik dan Penciptanya.
Oleh sebab itu betapa pentingnya Berlindung kepada Allah, betapa pentingnya Berserah diri kepada Allah dengan jalan bertakwa kepada Nya, agar hawa nafsu bisa tunduk terkendali.
Diibaratkan kita yang hendak menemui seorang tokoh besar dan berkuasa.
Dipintu pagar rumahnya, kita sudah dicegat oleh puluhan penjaga yang sangat garang.
Jika kita hanya berbekal uang suap untuk menjinakkan puluhan penjaga itu, belum tentu mereka mau menerimanya karena boleh jadi telah dicukupi kebutuhannya oleh tuannya.
Jalan terbaik adalah meminta tolong kepada tuan rumah dengan jalan menelpon pemilik rumah, yaitu orang yang hendak kita temui itu.
Tetapi sebelumnya kita harus dikenal baik olehnya, mengerjakan hal-hal yang disukainya, dan tentunya mempunyai nomer telepon khusus dengannya.
Begitu kita telepon dan meminta tolong, diapun keluar untuk menjinakkan para penjaganya, lalu mempersilahkan kita masuk kerumahnya.
Untuk bisa memperoleh Perlindungan Allah dengan mudah, kita wajib memperkenalkan diri kita dengan melakukan ketaatan-ketaatan yang membuat Allah senang.
Dan dasar dari seluruh ketaatan itu adalah memerangi setiap kehendak hawa nafsu (berpuasa dibulan romadlon) yang cenderung hanya untuk memanjakan diri.
Karena tanpa melalui hal ini, mustahil orang akan bisa melakukan ketaatan dengan ikhlas.
Yaitu semata-mata hanya memper-Tuhankan Allah, semata-mata hanya mengabdi kepada Allah dan semata-mata hanya berharap (membutuhkan) kepada Allah.
Inilah hamba Allah yang suci dan sangat dicintai Nya.
Keikhlasan inilah alat penghubung yang paling dekat dan paling aman demi memperoleh Perlindungan Nya Allah.
Tapi kondisi seperti ini hanya bisa dicapai jika jiwa suci seseorang itu telah bangun (lahir) dari tidur panjangnya.
Yaitu jiwa penghamba yang posisinya berada dikedalaman lubuk hati setiap manusia, tetapi selama ini tertutupi oleh hawa nafsu yang menguasainya.
Oleh sebab itu hawa nafsu harus didobrak dan diperangi agar jiwa suci itu bisa lahir dan mengarahkan kita untuk senantiasa mengabdi kepada Allah dengan total dan ikhlas.

Wallohu ‘alam bishshowaab.

Category: Kajian Islam | Views: 202 | Added by: tri | Rating: 0.0/0
Total comments: 0
Only registered users can add comments.
[ Registration | Login ]
Login form

Calendar
«  June 2010  »
SuMoTuWeThFrSa
  12345
6789101112
13141516171819
20212223242526
27282930

Entries archive

Site friends
  • Create a free website

  • Copyright MyCorp © 2016